Berita

Berita BPI LIPI

BPI LIPI Kembangkan Troli Sterilisasi dan Disinfeksi Khusus untuk Pesawat yang Pertama di Indonesia


pic

Bandung, Humas LIPI. Seberapa besarkah potensi kita tertular SARS-Cov-2 selama penerbangan pesawat? Sebuah studi kasus baru dari Kementerian Kesehatan Selandia Baru menemukan bahwa COVID-19 dapat menyebar pada penerbangan jarak jauh. Ini menunjukan bahwa potensi penyebaran pandemi COVID-19 bisa terjadi dimana saja bahkan pada zona sirkulasi udara kabin pesawat yang diklaim aman. Perlu perlindungan tambahan untuk memastikan keberadaan SARS-Cov-2 pada kabin pesawat benar – benar inaktif. Peneliti Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) LIPI, Irwan Purnama memiliki pemecahannya.

“Saya menyebutnya Automated UVC Trolley (AUT). Ini berfungsi untuk di pesawat dan satu – satunya di Indonesia,” tutur Irwan membuka sesi wawancara, Rabu (9/3/2021) di Laboratorium Teknologi Kendali Terdepan (Advanced Control Technology), Gedung 80 Kawasan Multisatker LIPI Bandung. Prototipe AUT merupakan sebuah alat berupa troli yang terintegrasi dengan sistem disinfeksi sinar UVC. Alat ini dirancang khusus untuk bisa bergerak di ruang atau lorong sempit seperti kabin pesawat dan gerbong kereta api. Keutamaan AUT ialah bentuknya yang ringkas dan rancang penempatan lampu UVC secara horizontal. “Sayap lampu UVC bisa dikembangkan sehingga Sinar UVC yang dipancarkan bisa menjangkau semua bagian kursi dan juga lantai,” tutur Irwan.

Ia menjelaskan bahwa AUT didesain secara khusus agar bisa masuk ke kabin kelas ekonomi dengan panjang 70 cm, tinggi 100 cm, dan lebar 32,5 cm. Ketinggiannya bisa mengikuti tinggi rendah sandaran pada kursi pesawat dan sayap lampu UVC bisa memanjang menyesuaikan deret kursi yang ada. Ada total 24 lampu UVC ukuran kecil dengan daya sekitar 15W untuk setiap lampu yang terpasang di bagian sayap, depan, belakang, dan bawah. AUT juga dilengkapi dengan catu daya baterai UPS dan sensor ultrasonic agar tidak menabrak objek rintangan.

Pengembangan UVC telah berlangsung sejak masa awal pandemi pada Juni Tahun 2020. Irwan bersama kolega peneliti lain di UPT BPI LIPI melihat ancaman besar penyebaran COVID-19 di tempat – tempat dengan mobilitas tinggi seperti bandara dan moda transportasi. Irwan dkk kemudian merancang standar – standar utama pengembangan AUT seperti tidak meninggalkan residu seperti cairan atau partikel serta mampu menerobos lorong – lorong sempit seperti di kabin pesawat yang notabene berkisar 45 cm saja. “Itulah kenapa kami memilih paparan sinar UVCyang menyebabkan strain virus Corona, SARS-CoV, menjadi tidak aktif,” terangnya.

Irwan menandaskan teknologi disinfeksi khusus pesawat saat ini belum ada di Indonesia. Adapun salah satu alat disinfeksi berbasis UVC khusus seperti AUT adalah GermFalcon yang dikembangkan oleh Dimer. Sebuah perusahaan swasta yang berbasis di Los Angeles, Amerika Serikat. Irwan mengatakan salah satu kelebihan AUT adalah pengoperasiannya yang sudah menggunakan kendali jarak jauh. Berbeda dengan GermFalcon yang masih perlu didorong secara manual, AUT sudah menggunakan pengendali sehingga meminimalisir kemungkinan paparan radiasi UVC terhadap operator. “Tahap ke depan adalah fully autonomous menggunakan SLAM (Simultaneous localization and mapping) sehingga AUT bisa mencari posisi sendiri yang kita inginkan dan bergerak sendiri tanpa dipandu remote control,” ungkapnya.

Irwan dan tim berencana untuk terus mengembangkan kemampuan AUT baik dari segi mekanika maupun kontrol. Ia berharap risetnya ini akan berdampak positif pada upaya pemutusan rantai penyebaran COVID-19. “Bukan hanya pada saat pandemi mungkin nanti setelah selesai pandemi, proses disinfeksi masih sangat perlu untuk inaktivasi virus – virus yang sejenis,” pungkasnya. AS