Berita

Berita BPI LIPI

BRIN: Analitis Data adalah Masa Depan


pic

Bandung, Humas BRIN. Presiden Joko Widodo pernah menyebutkan bahwa data adalah tambang minyak baru. Kemampuan mengelola data dan memanfaatkannya bagi kehidupan akan semakin krusial di tengah kemajuan teknologi saat ini. Data juga sebagaimana pernah dinyatakan oleh Kepala BRIN Dr. Laksana Tri Handoko, adalah fundamental berharga bagi pengambilan suatu kebijakan. Inilah mengapa Direktorat Publik Kepabeanan dan Cukai menyelenggarakan Post Clearance Audit (PCA) Talk berjudul “Mengulik Data Analytics”, Selasa (28/12) secara daring.

Hadir sebagai narasumber Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) BRIN Dr. Hanif Fakhrurroja, dalam paparan ringkasnya ia menyampaikan definisi, sejarah, hingga perkembangan analitis data kontemporer. Analitis data menurutnya ialah kemampuan dalam menemukan, menafsirkan dan mengomunikasikan pola-pola yang ada dala suatu data sehingga data tersebut bisa menjadi pengetahuan dan basis suatu pengambilan kebijakan. “Menurut IEEE CS salah satu tren teknologi yang ada dan sedang berkembang ialah Big Data dan Analytics,” terangnya.

Bukan tanpa alasan, Hanif menjelaskan bahwa saat ini peradaban manusia sudah memasuki era Industri 4.0 dan Society 5.0. Sebuah era yang mengedepankan Internet of Things (IoT) sebagai salah satu tulang punggungnya. Kehadiran IoT mengubah banyak hal dalam hidup dari mulai manufaktur, medis, pendidikan, ekonomi, politik, hingga olahraga. Hanif menceritakan kesuksesan Jerman menjuarai Piala Dunia 2014 dimana analitis data berperan di sana. “Jadi mereka menganalisis data pertandingan-pertandingan lawannya untuk dijadikan evaluasi strategi bertanding,” tuturnya.

“Data yang dihasilkan peradaban manusia hingga 2003 hanya 5 exabites, kini kita menghasilkan 5 exabite setiap dua hari dan kecepatannya kian bertambah,” lanjut Hanif. Pengguna ponsel cerdas kian bertambah seiring dengan masifnya kemajuan teknologi. Setiap orang menjadi produsen sekaligus konsumen data. Hanif percaya inovasi seperti Metaverse adalah masa depan bagi semua pengguna internet dan keberadaan Big Data adalah salah satu kuncinya. “Dulu kita memanfaatkan data yang kita miliki sendiri, sekarang kita bisa memperoleh semua data melalui internet,” sambungnya.

Hanif menyampaikan 4 karakteristik Big Data yaitu: volume, velocity, variety, dan veracity. Menurut literatur 75% adalah data yang tidak terstruktur. Bila kita mampu mengolah big data maka pengetahuan yang kita peroleh akan berkualitas dan bernilai. Sumber data big data ini berasal dari apa saja mulai dari foto, catatan, suara, hingga tag lokasi. Beragam aplikasi pengolah data juga kian bermunculan untuk mendukung analisis Big Data seperti Tableu, RapidMiner, Google Fusion Tables, dan sebagainya. “Artinya kita memasuki era Digital Evolution dan Digital Economy,” cetusnya.

Big Data merevolusi sendi-sendi kehidupan; belajar cukup melalui gawai, begitupun dengan interaksi, hiburan, bisnis dan sebagainya. “Bil Gates pernah meramalkan pada 1994 bahwa perbankan penting tapi kehadiran bank tidak dimana konsumen tak perlu selalu hadir secara fisik,” ungkapnya. Faktanya layanan digital bank di Indonesia melonjak hingga 660% pada 2020 silam. Bagi Hanif ini adalah bukti lain bahwa analitis data bisa digunakan oleh siapa saja, tidak melulu mereka yang ahli di bidang komputasi atau matematika. “Aktivitasnya ketika mengekstraksi ilmu pengetahuan/pola dari data disebut Data Science,” jelasnya.

Analitis data berperan untuk mendeskripsikan fenomena dengan memprediksi nilai, mengestimasi kemungkinan keluaran, dan memaksimalkan semua sumber daya dan keputusan dengan mensimulasi semua skenario yang ada. Ada istilah Analytics Maturity. Berdasarkan tujuannya Analytics Maturity terdiri dari 4 level: analitis deskrptif, analitis diagnostik, analitis prediktif, dan analitis perspektif. “Semakin tinggi levelnya, semakin memerlukan kemampuan pengolahan big data,” pungkasnya.

Pembicara sebelumnya, staf ahli bidang organisasi, birokrasi dan teknologi informasi Kementerian Keuangan Sudarto berbicara mengenai analitis data. Data sudah menjadi bagian dari keseharian dimana berbagai kegiatan memanfaatkan beragam aplikasi yang dibenamkan di dalam ponsel. Sudarto mengutip pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang mengatakan bahwa Indonesia tertinggal 5 tahun dibanding engara maju dalam hal pemanfaatan data menggunakan analitis data. “Data Analytics di Kemenkeu sudah menjadi keseharian dan terus berupaya menunjukan dampaknya dalam hal pengambilan kebijakan,” tuturnya.

Sudarto juga mendorong auditor di Kementerian Keuangan untuk bisa memanfaatkan analitis data dalam skema risk-based audit plan; sebuah skema audit yang menekankan pada analisis perencanaan resiko. Dalam audit tentu basisnya resiko artinya kita perlu melakukan data analitik prediktif dimana yang paling beresiko dan perlu diperiksa. Dalam risk based audit plan seperti di bea cukai perlu mana auditi yang resikonya tingga dan fiskalnya besar. “Kita akan bisa mengoptimalkan sumber daya yang ada sehingga kualitas audit akan jauh lebih bagus,” paparnya.

PCA Talk merupakan suatu program pengembangan pegawai dalam bentuk diskusi atau sesi berbagi yang diselenggarakan oleh Direktorat Audit Kepabeanan dan Cukai secara daring. Edisi “Mengulik Data Analytics” kemarin adalah edisi ke-10 penyelenggaraan PCA Talk yang menghadirkan Kepala BPI BRIN Dr. Hanif Fakhrurroja, staf ahli Kemenkeu Sudarto, dan Ade Satya Wahana Ketua Komunitas MoF-DAC. AS