Berita

Berita BPI LIPI

Hanif Fakhrurroja: Instrumentasi adalah masa depan


pic

Bandung-Humas BRIN. Pentingnya peran instrumentasi di masa akan datang, dimana instrumentasi berada di semua tataran industri. Dari mulai proses produksi yang berada di pabrik sederhana hingga otomasi industri berbasis internet yang menggerakan mesin-mesin canggih nan rumit. Disampaikan oleh Dr. Hanif Fakhrurroja, Plt. Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi – Badan Riset dan Inovasi Nasional, saat ditemui di ruangannya di Ged. 70 BRIN Bandung. “Instrumentasi digunakan hampir dimana saja apalagi di masa IOT ini kita mengarah pada instrumentasi cerdas,” ungkapnya.

Sebagai ilmu yang mempelajari pengukuran dan proses kendali[1], riset di bidang instrumentasi berpotensi besar menjadi bagian penting dalam cyber physical system. Sebuah sistem cerdas dengan sistem komputer dimana mekanismenya dipantau dan dikendalikan oleh algoritma berbasis komputer. Pada era revolusi industri 4.0, cyber physical system memungkinkan kita mengendalikan fisik suatu alat melalui konektivitas internet. “Sehingga bisa menggerakan sesuatu secara otonom, ini adalah tren ke depan,” tutur Hanif. Terlebih bagi Indonesia yang giat mengarahkan 5 sektor industri prioritasnya ke arah Industri 4.0.

Hanif mengingat betul bagaimana pesatnya perkembangan riset di bidang instrumentasi melesat; tak kalah dengan kencangnya perkembangan bidang lain seperti fisika dan informatika. Walhasil, ia memutuskan mengambil disertasi mengenai Machine Learning yang mendorongnya menciptakan sebuah aplikasi pintar bernama SITI akronim untuk Sistem InTeraksi Intelijen. Sebuah sistem berbasis android yang memungkinkan penggunanya berinteraksi dengan mesin. “Cukup dengan suara, getaran, atau deteksi wajah kita bisa mematikan lampu, menyalakan AC, dan sebagainya,” seru Hanif.

Risetnya mengenai Machine Learning semakin kukuh karena dirinya tergabung dalam Kelompok Penelitian (Keltian) Intelligent Instrumentation Technology. Sebuah keltian di BPI yang fokus pada pengembangan teknologi instrumentasi cerdas untuk mendukung berbagai proses dalam bidang pangan (integrated smart farming), otomotif (autonomus car), lingkungan (monitoring sungai dan cuaca) dan elektronik. Padahal dulu Hanif memulai karirnya sebagai sarjana di bidang fisika yang mengidolai Albert Einstein. “Kalau yang lain pasang poster itu Aktris, Pemain Bola, terus Aktor, kalau saya poster Einstein semua di kamar,” ceritanya sembari tertawa.

Layaknya fan, Hanif mengoleksi segala pernak-pernik yang berhubungan dengan Einstein seperti buku, poster, hingga temuan-temuannya. Tidak luput tema skripsi yang ia garap juga tak lepas dari topik fisika yakni, fisika komputasi. Topik yang bersinggungan dengan bidang keilmuan yang kelak menjadi favoritnya yaitu informatika. “Awal masuk masuk LIPI itu tahun 2006 diterima sebagai Peneliti Elektronika, ditempatkan di lab suhu,” kenang Hanif.

Tidak butuh waktu lama baginya untuk jatuh cinta terhadap bidang informatika. Hanif kemudian melanjutkan studi magister dan doktor di Institut Teknologi Bandung. Ia menyelesaikan studi S3 pada 2020 dari jurusan teknik elektro dan informatika dengan mengangkat disertasi mengenai interaksi manusia dan mesin. Selepas studi, ia didapuk untuk memimpin BPI BRIN menggantikan kepala terdahulu Dr. Anto Sugiarto. Hanif yakin BPI memiliki potensi besar untuk memimpin riset-riset di bidang instrumentasi cerdas. “Karena semua bidang pasti ada instrumentasinya,” tegasnya.

Memasuki era industri 4.0 dimana semua semakin terkoneksi melalui IoT, instrumentasi adalah salah satu kuncinya. Kedepan ia ingin mendorong BPI BRIN bisa menjadi pusat riset instrumentasi cerdas tapi SDM menjadi salah satu tantangannya. Saat ini BPI BRIN baru memiliki 27 peneliti dari jumlah ideal 40 peneliti. Kendati demikian, Hanif optimis kekurangan tersebut bisa dikejar. “Alhamdulilah BPI itu hampir tenaga penelitinya masih muda-muda dan masih punya kompetensi yang luar biasa,” serunya.

Bagi Hanif SDM adalah kekuatan utama BPI BRIN. Ia percaya masa depan riset di bidang instrumentasi cerdas cemerlang bagi mereka. Kepercayaan itu kian terwujud tatkala pertama kalinya dalam sejarah satker, Hanif menggagas penghargaan internal bagi sivitas BPI BRIN. “Pertama Peneliti dengan publikasi terbaik, namanya Pak Hilman. Kenapa terbaik? karena dia menghasilkan ke 1 terbitan tahun ini, yang lain kan masih belum tembus ke Q1. Kedua Peneliti terbaik, peneliti terbaik Ibu Peni Luvita,” ungkapnya. Satu kategori penghargaan lain jatuh kepada kelti Instrumentasi Proses yang dipimpin Djohar Syamsi Penghargaan tersebut tiada lain sebagai apresiasi dan motivasi bagi seluruh sivitas BPI BRIN untuk terpacu meningkatkan kompetensinya.

Menatap Tahun 2022, Hanif mempunyai beragam ide dan rencana kegiatan yang fokus pada pangan, perairan, lingkungan, hingga kebencanaan. Semuanya berusaha mengusung kecanggihan teknologi dengan IoT. Salah satu contohnya ialah sistem deteksi kesehatan sapi peras. Tim BPI mengembangkan kalung yang mampu memantau kesehatan sapi secara langsung. “Ketahuan enggak sehat kita juga segera dikasih obat,” jelasnya. Tidak lupa dirinya berterima kasih kepada seluruh peneliti BPI BRIN yang tetap semangat bekerja di tengah dinamika organisasi yang terjadi. “Motivasi teman-teman sangat luar biasa untuk tetap beriset, tetap bikin paper, masih produktif,” tuturnya antusias.

Ia percaya transformasi BPI LIPI menjadi BPI BRIN merupakan perubahan organisasi yang dibutuhkan bagi kemajuan penelitian di Indonesia. Jika boleh menganalogikan ia menyebut layaknya jagoan yang bertarung melawan monster. Jika jagoan tersebut ingin menang ia harus mau berubah agar bisa mengeluarkan kemampuan terbaiknya. “Mudah-mudahan dengan perubahan ini berubah menuju kearah lebih baik,” pungkasnya. (AS/ed:KG)


[1] https://www.fimela.com/lifestyle/read/4540085/instrumentasi-adalah-alat-yang-digunakan-dalam-pengukuran-dan-pengendalian-berikut-penjelasannya