Berita

Berita BPI LIPI

Webinar Intelligent Instrumentasi LIPI


pic

Bandung, Humas LIPI. Bayangkan anda tengah berbelanja di supermarket dan mendapati bahwa buah-buahan yang ingin anda beli telah habis. Bagi kita yang tengah berbelanja mungkin hal tersebut sesuatu yang lumrah. Namun, tanpa kita sadari nun jauh di tempat lain, seseorang eksekutif baru saja mendapatkan data bahwa stok buah-buahan yang hendak kita beli habis lebih cepat dari seharusnya sehingga mengubah data perencanaan penjualan perusahaan tersebut. Singkat kata, data tersebut menjadi bagian penting basis perencanaan dan anggaran perusahaan tersebut. Itulah salah satu gambaran signifikannya Internet of Things (IoT).

Internet of Things (IoT) juga menjadi bagian penting perkembangan riset di bidang instrumentasi. “Instrumentasi adalah seni dan ilmu mengukur dan mengendalikan variabel proses dalam produksi, atau manufaktur,” tutur Dr. Anton Tri Sugiarto Kepala Balai Pengembangan Instrumentasi (BPI) LIPI. Dalam sambutannya membuka webinar bertajuk Intelligent Instrumentation Technology Vol. 1; Anto menegaskan bahwa revolusi industri sejalan dengan perkembangan teknologi instrumentasi. Dari mulai secara manual dimana data ditulis dengan kertas hingga digitalisasi dan penerapan sensor berbasis IoT. “Ini adalah acara yang kami buat di BPI LIPI untuk memperkenalkan bagaimana instrumentasi di era 4.0 bisa semakin bermanfaat bagi kehidupan kita semua,” ungkapnya.

Beberapa keuntungan instrumentasi berbasis IoT menurut Anto antara lain: pengukuran yang berkesinambungan, pengukuran yang real time, hingga integritas pengukuran yang semakin baik. BPI LIPI juga telah dan sedang mengembangkan proyek instrumentasi berbasis IoT seperti Integrated Smart Farming di Desa Pamalayan, Kabupaten Garut. Di sana, BPI LIPI membangun smart green house yang menyediakan informasi kelembaban, suhu, nutrisi tanah, dsb. Kontrol unit semisal Katup Penyiram akan bekerja sesuai dengan instruksi. “Semoga ke depan dengan adanya kegiatan ini kita bisa lebih maksimal lagi bekerjasama dengan pihak lain,” harapnya.

Webinar yang berlangsung selama tiga jam ini juga menghadirkan narasumber-narasumber kompeten lain di bidang teknologi instrumentasi dan IoT. Mereka adalah Dr. Edi Triyono Nuryatno University of Western Australia, Iman Firmansyah, Ph.D LIPI, Dr. Seno Adi Putra Telkom University, dan Dr. Hanif Fakhurroja LIPI. Adapun topik-topik yang mereka suguhkan: Internet of Things in Healthcare: Application, benefits, and challengers; FPGA Programming using OpenCL: From HPC to IoT; Intelligent sensing in multiagent-based wireless sensor network for the IoT; IoT the human-machine interaction unlocking new opportunities.

Edi Triyono yang memaparkan pemanfaatan IoT di dunia pelayanan kesehatan memerikan banyak contoh di Australia. Ia menggambarkan bagaimana IoT dalam dunia layanan kesehatan di Australia telah terintegrasi dengan cukup baik melalui berbagai aplikasi. Filosofi IoT dalam kasus ini adalah bagaimana menghubungkan dan mengoneksikan data-data digital kesehatan sehingga layanan medis lebih personal dan akurat. “Sejak 2013 pemerintah Australia meluncurkan myGov, sebuah SSO yang masyarakat bisa mengakses seluruh kebutuhan medisnya,” terang Edi. Integrasi data ini memudahkan masyarakat untuk mendapatkan pelayanan karena data mereka sudah terekam dengan baik. “Bukan kita membawa berkas tapi berkas mengikuti kita kemanapun,” jelasnya.

Penjelasan Iman Firmansyah terkait Field Programmable Gate Array (FPGA) juga tidak kalah menarik. Secara sederhana FGA adalah merupakan sebuah IC digital yang sering digunakan untuk mengimplementasikan rangkaian digital. Sirkuit terintegrasi ini bisa dikonfigurasi untuk melaksanakan berbagai operasi sesuai kepada aplikasi yang diinginkan. Aplikasi FPGA telah banyak diterapkan dari mulai industri otomotif hingga militer. “Karena dari segi kemampuan lebih tinggi, hemat energi dan no latency,” urai Iman. Jika dianalogikan, Iman menyebut perbedaan Digital Signal Processing (DSP) dan FPGA ini layaknya jalan tol. Jika DSP hanya memiliki 1 pintu tol maka FPGA memiliki lebih banyak pintu tol sehingga kecepatannya pun meningkat tajam.

Dalam presentasinya, Iman juga menyinggung mengenai tren OpenCL Open Computing Language yang merupakan sebuah kerangka kinerja yang bertugas untuk mengeksekusi berbagai platform arsitektur yang terdiri dari GPU dan CPU. Menurutnya OpenCL pas untuk digunakan dalam suatu FPGA berbasis IoT. “OpenCL adalah platfom yang komplit,” cetusnya.

Seno Adi Putra menyuguhkan paparan mengenai Intelligent sensing berbasis Wireless Sensor Network (WSN). WSN sebuah kumpulan node yang dapat berupa sensor yang akan melakukan pengambilan data pada parameter ukur dan kemudian dikirimkan pada sebuah node sentral atau sebuah server untuk dilakukan pengolahan data. Contoh implementasi WSN diantaranya pada bidang aristektur sebagai alat untu mengukur atau mendeteksi kerusakan atau anomali yang terjadi. “Misal ada gedung berapa laintai dan kita tanam sensor node di masing-masing lantai. Jika ada anomali atau indikasi kerusakan maka hal ini bisa diketahui dan dilakukan investigasi,” paparnya.

Narasumber terakhir Hanif Fakhrurroja juga menutup sesi webinar kali itu dengan elaborasinya tentang IoT dan interaksinya dengan Human-Machine. Membuka dengan gambar adegan dalam film Iron Man. Hanif memperlihatkan potensi kemajuan teknologi di bidang ini akan semakin memudahkan hidup masyarakat modern. BPI LIPI bahkan telah dan tengah mengembangkan suatu ruangan pintar yang bisa diatur menggunakan berbagai modalitas seperti suara, ekpresi wajah, hingga gerakan. “”Mudah-mudahan webinar ini membuka forum silaturahmi,” pungkasnya. AS